Kamis, 06 Juni 2013

Damai Lampung Ku

Menelisik pecahnya konflik horisontal di Lampung akhir - akhir ini sangat memprihatinkan kita semua.Apalagi konflik etnis hanya di sebabkan kesalah pahaman belaka.Bukan persoalan prinsip.Sehingga, sangat mengganggu hubungan antar kekerabatan serta persaudaraan beda suku dan agama dalam koridor NKRI.

Kita semua sepakat apapun suku dan agama, baik asli maupun pendatang,mengaku sebagai warga Lampung.Apa lagi kita hidup berkeluarga.Dan, membangun bumi ladang dengan segala pengorbanan kita untuk sebuah kesejahteraan juga kemakmuran bersama.Namun, jerih payah kita sebagai masyarakat Lampung bersatu janganlah sampai ternodai oleh perbedaan antar masyarakat dan suku yang menjadi pemicu maupun pemantik dendam kusumat di antara anak bangsa.
Sebagai masyarakat Lampung, harus memahami budaya Lampung yang terdiri dua jurai.
  1. Pepadun
  2. Seibatin/Pesisir.
Dialek Pepadun adalah Nyo (apa) sedangkan dialek Seibatin yakni Api (apa).
Lampung mengandung keunikan, mesti memiliki bahasa daerah sendiri.Bahasa yang digunakan terutama dikota - kota tidak lagi menggunakan bahasa Lampung, melainkan Indonesia.Bahkan di kampung - kampung tertentu masyarakat suku asli Lampung sangat pasih dengan bahsa suku pendatang khususnya jawa.Ini membuktikan bahwa suku Lampung dapat menerima saudara - saudaranya dari suku lain,luar Lampung(akulturasi),dan dapat hidup bersama berdampingan secara damai dalam bermasyarakat.Hal ini sesuai dengan salah satu falsafah Lampung "Nemui Nyimah"(menghormati tamu dan ramah).

Dalam kehidupan bermasyarakat,mereka dapat bekerja sama dalam semua hal walau ada perbedaan etnis, budaya, dan kepercayaan.Hal ini dapat di lihat Lampung merupakan tempat perpindahan penduduk pendatang khususnya suku jawa dari era kolonisasi pertama zaman Belanda.Antara lain Gedung Tataan, Lampung Tengah, dan Metro.Demikian pula disusul oleh suku - suku lain seperti Bali, Palembang, Batak, dan Minang.Lampung merupakan penduduk yang sangat heterogen.Lalu dapat disebut Lampung sebagai miniatur Indonesia.Hal ini tentunya bukan suatu yang mudah dalam menyikapi dan menjaga keutuhan bersama dalam bentuk kesatuan dan persatuan.

Seperti kita ketahui bersama,akhir-akhir ini terjadi beberapa pertikaian antar masyarakat di Lampung,yang sesungguhnya hal ini tidak perlu terjadi apa bila semua pihak dapat mengantisipasi keadaan masyarakat yang mempunyai potensi kerusuhan.

Dengan adanya pendekatan antara Pemda setempat bersama muspida serta tokoh agama,adat, dan masyarakat, di harapkan pertikaian yang pernah terjadi di beberapa daerah di Lampung tidak akan terulang lagi.Ini menjadi harapan kita semua baik masyarakat asli Lampung maupun masyarakat pendatang untuk Lampung tercinta.Agar masyarakat asli Lampung dan masyarakat pendatang dapat hidup berdampingan dengan damai dan sejahtera, walaupun di antara masyarakat ada perbedaan etnis, budaya, dan kepercayaan.

Semoga Lampung kedepan bisa damai dan sejahtera....................

0 komentar:

Posting Komentar